Reversible Watermarking
May 27, 2008 by desu-coolboy
Tuntutan autentikasi terhadap medical image sangat besar pada pertukaran data antara komunitas kedokteran dan institusi penelitian. Watermarking citra digital relevan digunakan dalam medical imaging. Namun pada implementasinya dibutuhkan watermarking yang reversible sehingga tidak terjadi penyimpangan pada citra digital yang digunakan. Dalam reversible watermarking tidak hanya menyediakan proteksi terhadap data yang disimpan sebagai hak cipta tetapi juga dapat mengembalikan citra host seperti semula. Reversible watermarking diharapkan tahan terhadap serangan yang disengaja atau tidak disengaja dan harus imperceptible. Reversible watermarking memiliki dua kebutuhan :
1. Blind
Beberapa dari watermarking yang conventional atau umum diketahui memerlukan citra asli untuk mendapat kembali watermark yang disisipkan. Namun, reversible watermarking dapat mengembalikan citra asli dari citra yang terwatermark secara langsung. Maka dari itu, reversible watermarking disebut blind, yang berarti proses retrieval tidak membutuhkan citra asli.
2. Higher Embedding Capacity
Ukuran dalam menyimpan informasi didefinisikan sebagai embedding capacity. Skema reversible watermarking menyisipkan informasi recovery dan informasi watermark sehingga skema reversible watermarking membutuhkan embedding capasity yang lebih besar.
Hasil yang ingin dicapai dari reversible watermarking adalah melakukan proteksi hak cipta dan dapat mengembalikan citra host seperti semula.
Gambar diatas memberikan gambaran bagaimana skema reversible watermarking dibandingkan dengan watermarking yang lazim diketahui. Perbedaan terletak pada bagian akhir dari skema tersebut. Maka dari itu, reversible watermarking sangat cocok untuk aplikasi yang memerlukan kualitas citra digital yang tinggi seperti bidang kedokteran dan militer.
Terdapat dua bidang penelitian yang dihubungkan dengan watermarking digital
: data hiding dan image authentication. Data hiding memiliki tujuan menggunakan host data untuk menyembunyikan dan mentransmisikan informasi rahasia. Sedangkan image authentication bertujuan untuk memeriksa
apakah citra yang didapat telah dirusak atau tidak. Berdasarkan definisi ini, hasil yang ingin dicapai dari reversible watermarking citra digital adalah melakukan penyisipan data dan dapat mengembalikan citra host seperti semula saat data yang disisipkan dihilangkan.
Terdapat banyak skema reversible watermarking yang dikemukakan. Berdasarkan skema yang ada, reversible watermarking diklasifikasikan menjadi 3 yaitu skema yang menggunakan data compression, skema yang menggunakan difference expansion, dan skema yang menggunakan histogram
bin shifting.
Skema yang menggunakan data compression, data yang disisipkan merupakan data yang telah mengalami kompresi sehingga didapat ruang penyimpanan yang lebih besar untuk menyimpan informasi recovery citra host dan juga informasi dari data yang disisipkan.
Skema yang menggunakan difference expansion, data label watermark biasanya disisipkan didalam nilai-nilai LSB. Kemudian rekonstruksi citra host dilakukan berdasarkan nilai-nilai yang telah dimodifikasi. Kedua skema tersebut tidak tahan terhadap pemrosesan image dan distorsi. Skema yang menggunakan histogram bin shifting berusaha memberi robustness pada reversible watermarking.
References : J.-B. Feng, I.-C. Lin, C.-S. Tsai, and Y.-P.Chu, 2006, Reversible Watermarking: Current Status and Key Issues. International Journal of Network Security, Vol. 2, No. 3, PP.161-171.
